Negosiasi Tarif Indonesia-Amerika Serikat Ditargetkan Rampung November 2025, Pelaku Usaha Berharap Dapat Fasilitas Tarif Nol Persen

Negosiasi Tarif Indonesia-Amerika Serikat Ditargetkan Rampung November 2025, Pelaku Usaha Berharap Dapat Fasilitas Tarif Nol Persen
Photo by Aaron Burden / Unsplash
⏱️ Artikel ini dapat diakses secara bebas akses hingga pukul 20:00 pada

JAKARTA- Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan menargetkan negosiasi tarif antara Indonesia dan Amerika Serikat rampung pada November 2025.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan negosiasi yang dilakukan salah satunya membahas permintaan sejumlah komoditas yang dapat diberi fasilitas tarif hingga 0 %.

“ Belum selesai, minggu depan akan ada lagi perundingan dan diharapkan rampung November 2025 ini,” ujar dia seperti dilansir Antara (5/11).

Gapki Dorong Pemerintah Negosiasi Tarif 0%

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mendorong pemerintah untuk memperjuangkan tarif ekspor sawit sebesar 0 persen ke Amerika Serikat (AS). Langkah ini dianggap krusial untuk meningkatkan daya saing sawit Indonesia di pasar global.

Ketua Umum GAPKI Eddy Martono, mengungkapkan GAPKI yakin bahwa peluang untuk mengembalikan tarif ekspor sawit menjadi nol persen masih terbuka lebar. Hal ini didasarkan pada pengalaman sebelumnya ketika AS pernah menerapkan kebijakan serupa saat hubungan perdagangan kedua negara berjalan baik.

“Indonesia pernah menikmati tarif nol persen di pasar Amerika Serikat,Amerika tidak bisa memproduksi sawit sendiri, jadi mereka tetap membutuhkan kita,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (5/11).

Dalam negosiasi, Indonesia perlu mengedepankan prinsip timbal balik. Strategi ini penting untuk mencapai kesepakatan perdagangan yang saling menguntungkan.

“Kita bisa manfaatkan komoditas lain, misalnya impor kedelai dari AS atau pembelian pesawat Boeing. Dengan cara ini, kesepakatan tarif 0 persen jadi lebih realistis,” kata dia.

Menurut Eddy, posisi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia adalah modal kuat dalam diplomasi ekonomi. Namun, negosiasi harus dilakukan dengan perhitungan strategis dan kalkulasi ekonomi yang matang.

Peningkatan Daya Saing Industri

Senada dengan Eddy Martono, Ketua Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia Benny Soetrisno menuturkan pihaknya mendukung langkah negosiasi tarif dengan Amerika Serikat.

Ia berharap negosiasi dapat berlangsung aman dan komoditas produk Indonesia mendapatkan tarif 0% ke Amerika Serikat sehingga bisa meningkatkan daya saing industri.

“ Diharapkan proses perundingan atau negosiasi tidak ada masalah sehingga kedua belah pihak saling menguntungkan,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (5/11).

Pemerintah Berhati-Hati

Mendag Budi Santoso mengatakan perundingan dengan Amerika Serikat dalam menetapkan tarif balasan tersebut dilakukan pemerintah secara hati-hati dengan memperhatikan posisi tawar-menawar (bergaining positions) Indonesia.

Menurut dia, pemerintah menginginkan agar produk-produk Indonesia yang tak diproduksi oleh AS bisa mendapatkan tarif resiprokal 0 persen.

"Kita ingin produk-produk kita yang tidak diproduksi oleh Amerika, tetapi diekspor ke sana yang mendapatkan 0 persen," kata dia.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan negosiasi tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) masuk ke tahap finalisasi, setelah mendapat persetujuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump.

"Sekarang, finalisasi perjanjian dengan Amerika Serikat yang principle agreement-nya sudah disetujui oleh Bapak Presiden Prabowo dan Presiden Trump," ucap Airlangga pada Oktober lalu.

Saat ini, sedang dilakukan penyusunan dokumen hukum atau legal drafting secara intensif ihwal kesepakatan antara Indonesia dengan Amerika Serikat.

Terkait dengan komoditas yang akan dibebaskan dari tarif, Airlangga menjelaskan bahwa pada prinsipnya pembebasan tarif akan diberlakukan kepada komoditas yang bisa ditanam di Indonesia, tetapi tidak bisa ditanam di Amerika Serikat.

"Begitu juga sebaliknya. Artinya, seperti kelapa sawit, kakao, coklat, itu mereka memberikan tarif nol," tutur Airlangga.

Presiden Trump menetapkan tarif impor resiprokal untuk Indonesia sebesar 19 persen, turun dari angka yang ditetapkan pertama kali sebesar 32 persen.

{{#is "post"}}
🔒 Konten ini akan dikunci pukul 20:00 pada
{{/is}}