Perubahan Iklim dan Penurunan Biaya Produksi

Perubahan Iklim dan Penurunan Biaya Produksi
Photo by Markus Spiske / Unsplash

Praktik pertanian berkelanjutan terus didorong dengan tujuan untuk mitigasi perubahan iklim dan menurunkan biaya produksi.

Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras (Perpadi) Sutarto Alimoeso menuturkan dari 150 penggilingan padi yang dipantau Perpadi di seluruh Indonesia, sebagian besar sudah beralih dari mesin diesel ke listrik.

Produk yang dihasilkan berupa beras rendah karbon sehingga mengurangi emisi gas rumah kaca,produksi beras secara tradisional menyumbang sekitar 2,5% dari total emisi gas rumah kaca global, sebagian besar dari metana yang dihasilkan dari lahan basah. 

Beras rendah karbon mengurangi emisi ini dengan menerapkan metode produksi yang lebih efisien, selain itu, beras rendah karbon membantu mengurangi polusi udara dan melindungi ekosistem, serta menjaga keanekaragaman hayati. 

Pihaknya juga sedang mempelajari penggunaan tenaga surya untuk penggilingan padi sehingga baik untuk lingkungan.

“ Praktik pertanian berkelanjutan sudah masuk ke dalam agenda utama Perpadi, dan akan terus didorong sampai ke daerah,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (22/11).

Dukung BULOG untuk Tambah Penggilingan Padi

Sutarto menuturkan pihaknya mendukung rencana Perum BULOG yang akan menambah infrastruktur pasca panen termasuk penambahan penggilingan padi.

Peran penggilingan padi sangat penting untuk mengubah gabah menjadi beras, mengolah gabah kering giling menjadi beras yang bersih, dengan membuang kulit arinya sehingga siap dikonsumsi atau dijual.

Penggilingan padi juga berperan dalam menstabilkan harga beras di tingkat konsumen melalui pengelolaan yang efisien dan penyerapan gabah dari petani.

“ Kami mendukung rencana Bulog yang akan memperkuat infrastruktur pasca panen untuk ketahanan pangan,” ujar dia.

Perum Bulog Siapkan RP 5 Triliun Untuk Pembangunan Infrastruktur Pasca Panen

Perum BULOG merespon cepat rencana pemerintah untuk membangun 100 infrastruktur pasca panen (IPP) yang tersebar di seluruh Indonesia dengan melakukan koordinasi awal bersama BUMN Karya. 

Direktur Utama Perum BULOG,Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan pentingnya sinergi antar-BUMN untuk memastikan proyek berjalan cepat, tepat, dan berkualitas.

Pembangunan 100 IPP mencakup gudang penyimpanan beras dan jagung, fasilitas pengering (dryer), unit penggilingan (RMU), silo, dan Rice to Rice (RTR) berbasis teknologi modern. Program ini didukung pendanaan sebesar Rp5 triliun dari dana investasi pemerintah non permanen.

“Kami diamanatkan Presiden untuk membangun 100 infrastruktur pasca panen sebagai jawaban atas meningkatnya produksi pangan nasional. BULOG tidak bisa bekerja sendiri. Kami membutuhkan kolaborasi BUMN Karya agar pembangunan ini berjalan cepat dan tepat sasaran,” ujar dia dalam siaran persnya yang diterima SUAR di Jakarta (21/11)>

Rizal menambahkan, proyek ini tidak sekadar soal infrastruktur, tetapi tentang kedaulatan pangan dan keadilan akses bagi seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah 3T (terdepan, terluar, dan terpencil). 

Sebelumnya, telah dilakukan penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Penugasan Percepatan Pelaksanaan Penyediaan Infrastruktur Pascapanen dalam Rangka Ketahanan Pangan Nasional yang ditandatangani oleh Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Heru Pambudi, serta Kepala Badan Pengaturan BUMN Dony Oskaria, dengan dukungan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan.

Penggilingan Padi Jadi Fokus Utama

Perum BULOG mengambil langkah strategis untuk melindungi dan memberdayakan lebih dari 160.000 penggilingan padi (rice milling) skala kecil di Indonesia dan menjadi fokus utama untuk dipantau. 

“Penggilingan padi kecil adalah jantung ketahanan pangan kita. Mereka yang menopang ketahanan pangan di level akar rumput tidak boleh tergilas oleh persaingan yang tidak sehat dan keterbatasan akses,” ujar Rizal.

Manfaat Praktik Pertanian Berkelanjutan

Pengamat Pertanian IPB Dwi Andreas mengatakan manfaat praktik pertanian berkelanjutan sangat luas dan berdampak pada petani, lingkungan dan konsumen

Keuntungan bagi Petani yaitu peningkatan pendapatan,biaya produksi dapat turun karena berkurangnya penggunaan pupuk dan pestisida kimia, sehingga petani mendapat keuntungan ekonomi lebih besar.

Petani menjadi lebih mandiri dengan memanfaatkan sumber daya lokal, seperti mengolah limbah menjadi kompos atau pakan ternak. 

Keuntungan bagi Lingkungan yaitu mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan meningkatkan penyerapan karbon oleh tanaman, yang berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim.

“Mengurangi penggunaan air dan energi, serta mencegah degradasi tanah melalui pengelolaan lahan yang baik.,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (21/11).

Keuntungan bagi Masyarakat dan Konsumen adalah menghasilkan produk pertanian yang lebih aman dan berkualitas karena minim penggunaan bahan kimia berbahaya.

Baca selengkapnya