Digitalisasi demi Pertumbuhan Nasional (2)

Digitalisasi demi Pertumbuhan Nasional (2)
Pengguna wondr by BNI, aplikasi milik PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mencatat pengguna baru sebanyak 225 ribu hingga September 2024. (Foto: BNI)
Daftar Isi

Perubahan zaman dan kecenderungan perilaku konsumen yang lebih digital, juga mendorong perubahan strategi bisnis perbankan. Bank tidak lagi hanya mengandalkan penghimpunan dana melalui kantor cabang, tetapi juga membangun ekosistem transaksi digital yang mampu menjaga dana nasabah tetap berada dalam sistem perbankan.

Digitalisasi keuangan permudah transaksi

Digital banking, layanan pembayaran, hingga solusi cash management bagi korporasi kini menjadi instrumen penting untuk meningkatkan frekuensi transaksi nasabah. Semakin tinggi aktivitas transaksi, semakin stabil pula dana murah yang tersimpan dalam rekening giro maupun tabungan.

Salah satu sumber pendanaan murah itu adalah dari CASA atau Current Account Savings Account. Namun sumber ini kini tidak hanya berkaitan dengan simpanan, tetapi juga dengan kemampuan bank membangun ekosistem transaksi keuangan. Data kinerja perbankan menunjukkan adanya variasi rasio CASA yang cukup signifikan di antara bank-bank besar. 

Seperti bank BCA tercatat rasio CASA nya mencapai sekitar 83,15% dari total dana pihak ketiga per Mei 2025, dengan dana murah mencapai sekitar Rp960,58 triliun. Sedangkan Bank Mandiri memiliki rasio CASA sekitar 77,64%, dengan nilai dana murah sekitar Rp1.092,33 triliun. Lalu bank BNI mencatat rasio CASA sekitar 71,72% dari total simpanan dengan dana murah mencapai Rp573,06 triliun, dan Bank BRI memiliki rasio CASA sekitar 62,38% dengan dana murah sekitar Rp825,78 triliun.

Perbedaan komposisi tersebut tidak hanya mencerminkan strategi penghimpunan dana, tetapi juga model bisnis masing-masing bank. BCA misalnya dikenal memiliki basis transaksi ritel dan korporasi yang kuat sehingga mampu mempertahankan rasio CASA yang sangat tinggi. Sementara itu, BRI yang fokus pada pembiayaan mikro memiliki struktur pendanaan yang lebih beragam dengan porsi deposito yang relatif lebih besar.

layanan front desk Ban BNI

Mau tak mau saat ini fokus industri perbankan nasional adalah mengelola dana murah berbasis digital. Digitalisasi adalah strategi menghadapi tekanan nilai tukar rupiah dan likuiditas akibat ketidakpastian global. Dengan memperkuat ekosistem digital, perbankan berharap dapat  menjaga pertumbuhan kinerjanya.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M Rizal Taufikurahman mengatakan bank dengan rasio CASA tinggi memiliki struktur pendanaan yang lebih efisien dibanding bank yang bergantung pada deposito berjangka di tengah persaingan likuiditas yang meningkat dan tren suku bunga yang relatif tinggi.

Semakin  tinggi rasio CASA, semakin rendah cost of fund bank karena dana giro dan tabungan memiliki bunga yang jauh lebih rendah dibanding deposito. "Struktur pendanaan yang lebih murah ini memungkinkan bank menjaga net interest margin (NIM) sekaligus menawarkan suku bunga kredit yang lebih kompetitif kepada sektor riil," katanya.

Sebaliknya, bank dengan rasio CASA rendah biasanya harus menarik dana melalui deposito dengan bunga lebih tinggi sehingga biaya dana meningkat dan ruang untuk menurunkan suku bunga kredit menjadi lebih terbatas. Dalam konteks intermediasi, CASA yang kuat memungkinkan bank menyalurkan kredit dengan risiko margin yang lebih terjaga.

Dalam skala makro, CASA yang kuat membantu menjaga efisiensi sistem perbankan dan memperbesar ruang pembiayaan bagi investasi, UMKM, dan konsumsi rumah tangga. Oleh karena itu, peningkatan CASA bukan hanya isu internal perbankan, tetapi juga menjadi faktor penting dalam memperkuat transmisi kebijakan moneter dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Rizal mengatakan strategi paling efektif  untuk memperkuat CASA saat ini adalah memperluas ekosistem transaksi. Bank perlu mendorong nasabah menjadikan rekening mereka sebagai rekening utama untuk aktivitas pembayaran, payroll, hingga transaksi digital.

Meningkatkan CASA dengan membangun ekosistem transaksi

Digital banking, integrasi dengan platform e-commerce, layanan pembayaran QR, serta penguatan ekosistem UMKM menjadi faktor penting dalam meningkatkan frekuensi transaksi dan saldo rata-rata rekening.

"Selain itu, peningkatan kualitas layanan digital dan pengalaman pengguna juga krusial karena persaingan tidak hanya terjadi antarbank, tetapi juga dengan perusahaan fintech dan dompet digital," katanya.

Strategi utama digitalisasi

Sebuah keharusan jika kini perbankan nasional terus membangun ekosistem digital. Mengingat kebutuhan pasar di sektor ini yang juga semakin besar. Salah satu yang dilakukan adalah penguatan aplikasi mobile banking untuk mendorong nasabah bertransaksi digital secara masif. Selain itu juga dilakukan integrasi ekosistem digital: kolaborasi dengan fintech, e-commerce, dan platform pembayaran untuk memperluas basis CASA. 

Kemudian juga ada inovasi produk digital seperti tabungan digital, layanan transaksi otomatis, dan integrasi QRIS untuk memperkuat inklusi keuangan. Perbankan juga berupaya melakukan efisiensi operasional dengan digitalisasi proses internal bank untuk menekan biaya dan meningkatkan kecepatan layanan.

Mempermudah nasabah melakukan transaksi digital secara masif

Pengelolaan berdasar teknologi informasi secara daring ini juga memiliki dampak dan tantangan tersendiri. Di satu sisi , digitalisasi menurunkan biaya dana melalui CASA, memperluas akses keuangan bagi masyarakat, termasuk UMKM, dan meningkatkan ketahanan likuiditas bank di tengah gejolak global .

Di sisi lain, ada beberapa tantangan yang perlu dimitigasi, seperti masalah keamanan siber yang membuat meningkatnya risiko serangan digital. Sedangkan di masyarakat kita sendiri sebagian masih belum terbiasa dengan layanan digital. 

Sedangkan akibat liberalisasi di industri ini, adalah persaingan dengan institusi bisnis yang menawarkan teknologi finansial yang lebih efisien. Bank konvensional pun harus menjaga relevansi di tengah inovasi non-bank.

Bagaimana pun, digitalisasi perbankan nasional bukan sekadar tren, melainkan strategi survival menghadapi ketidakpastian global. Dengan memperkuat ekosistem digital, bank nasional kita berupaya mengelola dana murah secara berkelanjutan, menjaga stabilitas likuiditas, sekaligus mendorong inklusi keuangan.

Digitalisasi perbankan dan pembiayaan ekonomi

Dalam konteks pembiayaan ekonomi nasional, perbankan di Indonesia juga mulai memanfaatkan struktur pendanaan yang semakin efisien untuk memperluas penyaluran kredit ke berbagai sektor produktif. 

Penguatan CASA melalui pengembangan layanan digital, transaksi korporasi, dan integrasi dengan ekosistem bisnis memungkinkan bank menjaga stabilitas pendanaan. Dengan struktur biaya dana yang lebih efisien, perbankan nasional memiliki ruang lebih luas untuk mendukung pembiayaan perdagangan internasional, industri manufaktur, infrastruktur, hingga usaha kecil dan menengah.

Peran tersebut menjadi penting karena sistem perbankan masih menjadi sumber utama pembiayaan sektor riil di Indonesia.

Pada akhirnya, pengelolaan CASA berkaitan langsung dengan fungsi dasar perbankan sebagai lembaga intermediasi. Dana murah yang stabil memberi bank kemampuan menyalurkan kredit secara berkelanjutan tanpa menghadapi tekanan likuiditas yang besar.

Dalam konteks pembangunan ekonomi, struktur pendanaan yang efisien memungkinkan perbankan memperbesar kontribusinya terhadap pembiayaan investasi dan ekspansi usaha.

Karena itu, persaingan meningkatkan CASA bukan sekadar strategi bisnis bank, tetapi juga bagian dari dinamika industri keuangan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Dari likuiditas ke kredit produktif

Dana murah yang terkumpul melalui CASA dan salah satunya dibangun lewat digitalisasi tadi memang diharapkan tidak berhenti di neraca bank. Karena sudah seharusnya mengalir kembali ke perekonomian dalam bentuk kredit.

Dan dengan struktur pendanaan yang efisien, bank pun akan mampu menyalurkan kredit dengan bunga lebih kompetitif, pembiayaan ke sektor UMKM dan konsumsi meningkat dan risiko likuiditas menjadi lebih terkendali. 

Di sinilah keterkaitan antara digitalisasi dan ekonomi riil menjadi nyata. Transaksi harian masyarakat—dari belanja kebutuhan pokok hingga pembayaran tagihan—secara tidak langsung memperkuat kapasitas pembiayaan ekonomi.

Namun, digitalisasi dan CASA tidak akan berkembang optimal tanpa fondasi literasi keuangan. Peningkatan literasi mendorong masyarakat untuk memahami manfaat menabung di bank lalu beralih dari transaksi tunai ke digital. Dengan kesadaran keuangan itu, mereka juga bisa mengelola keuangan secara lebih terencana. 

Literasi keuangan jadi fondasi penguatan CASA

Program edukasi yang digalakkan oleh Otoritas Jasa Keuangan bersama industri memperlihatkan hasil, dimana semakin banyak masyarakat yang tidak hanya memiliki rekening, tetapi juga aktif menggunakannya.

Literasi, dalam hal ini, bukan sekadar edukasi, melainkan pengungkit likuiditas sistem keuangan. Maka jika dirangkai, hubungan ini membentuk satu siklus yang saling memperkuat. Yang awalnya ada digitalisasi lalu peningkatan CASA yang memicu efisiensi perbankan untuk menghasilkan kredit produktif  sehingga terjadi pertumbuhan ekonomi yang merata. 

Dalam skala makro, implikasinya signifikan karena struktur pendanaan perbankan menjadi lebih sehat akibat ketergantungan pada dana mahal berkurang. Akibatnya stabilitas sistem keuangan meningkat dan pertumbuhan ekonomi lebih inklusif berbasis domestik

Bagi Indonesia, yang mengandalkan konsumsi domestik sebagai motor utama pertumbuhan, penguatan CASA melalui digitalisasi menjadi elemen strategis dalam menjaga daya tahan ekonomi terhadap gejolak global.

Dari transaksi ke transformasi

Pada akhirnya, transformasi digital perbankan bukan sekadar inovasi layanan. Ia adalah proses yang menghubungkan perilaku individu dengan stabilitas sistem ekonomi.

Setiap transaksi digital yang dilakukan masyarakat—sekecil apa pun—berkontribusi pada akumulasi likuiditas. Dari sanalah bank memperoleh ruang untuk menyalurkan kredit, mendorong usaha, dan menjaga denyut pertumbuhan ekonomi.

Dari layar gawai, likuiditas terbentuk. Dari likuiditas, ekonomi bergerak.

Feby Febriana Nadeak dan Gema Dzikri

Baca selengkapnya