Semua sektor bisnis tidak terkecuali perbankan, kini dituntut untuk melakukan inovasi layanan demi menghadapi persaingan yang semakin ketat serta adaptasi pola aktivitas nasabah yang beralih ke digital.
Di satu sisi, digital dalam layanan perbankan memungkinkan nasabah untuk melakukan berbagai aktivitas perbankan melalui platform digital, seperti aplikasi seluler atau website, tanpa perlu datang langsung ke kantor cabang.
Layanan ini mencakup berbagai transaksi keuangan, seperti transfer dana, pembayaran tagihan, pembukaan rekening, pengajuan pinjaman, hingga pengelolaan investasi.
Secara paralel, digitalisasi juga mendorong pertumbuhan pendapatan bank, melalui Current Account Savings Account (CASA). Penguatan CASA berarti penurunan biaya dana atau Cost of Fund (CoF).
Di tengah persaingan industri keuangan yang semakin ketat, perbankan nasional mulai memposisikan rasio CASA sebagai salah satu indikator strategis yang menentukan daya saing sekaligus profitabilitas.
CASA, yang terdiri dari dana murah berupa giro dan tabungan—menjadi fondasi penting bagi bank untuk menekan biaya dana (cost of fund) sekaligus meningkatkan margin keuntungan.
Dalam beberapa tahun terakhir, digitalisasi muncul sebagai mesin utama yang digunakan bank untuk memperkuat rasio CASA secara konsisten. Bagi banyak bank, transformasi digital bukan lagi sekadar proyek inovasi jangka pendek, melainkan strategi struktural untuk membangun basis dana murah yang berkelanjutan.
CASA dan struktur pendapatan bank
Dalam model bisnis perbankan, dana murah memiliki peran vital karena menentukan efisiensi biaya operasional bank. Semakin tinggi rasio CASA, semakin rendah biaya dana yang harus ditanggung bank dalam menyalurkan kredit, atau mengembangkan portofolio pembiayaan.
Sebaliknya, jika komposisi dana lebih banyak berasal dari deposito berjangka, bank harus membayar bunga yang lebih tinggi. Kondisi ini akan mempersempit net interest margin (NIM), indikator utama profitabilitas bank.

Karena itu, bank berlomba memperbesar basis CASA. Selain memberikan ruang ekspansi kredit yang lebih agresif, CASA juga memberikan stabilitas likuiditas jangka panjang bagi perbankan.
Di banyak bank besar, CASA bahkan telah menjadi sumber pendapatan tidak langsung yang signifikan. Dana murah yang terkumpul dapat dialokasikan ke berbagai instrumen pembiayaan yang menghasilkan margin lebih tinggi dibandingkan biaya dana yang sangat rendah.
Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, rasio CASA sangat penting dalam menentukan daya saing bank saat ini. Di tengah persaingan likuiditas, bank yang kuat pada dana murah tidak terlalu bergantung pada deposito berbiaya tinggi untuk menjaga pendanaan. "Sehingga lebih leluasa mempertahankan efisiensi, menjaga ketahanan laba, dan tetap agresif menyalurkan kredit," katanya pada SUAR.
Ia mengatakan hal tersebut makin relevan karena meskipun likuiditas industri perbankan masih memadai, persaingan mendapatkan dana tetap kuat. Pada Januari 2026, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 13,48%, dengan giro tumbuh 19,75%, deposito 12,61%, dan tabungan 8,27%. Likuiditas juga masih tebal, terlihat dari rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga 27,54%, alat likuid terhadap dana noninti 121,23%, dan rasio kecukupan likuiditas 197,92%.
Bank yang mampu menangkap dana transaksi dan dana operasional nasabah akan punya posisi tawar jauh lebih kuat
Artinya, sambung Josua, bank yang mampu menangkap dana transaksi dan dana operasional nasabah akan punya posisi tawar jauh lebih kuat dibanding bank yang masih mengandalkan deposito.
Ia mengatakan rasio CASA sangat berpengaruh langsung pada biaya dana. Semakin besar porsi giro dan tabungan, semakin rendah rata-rata biaya penghimpunan dana. "Kalau biaya dana turun, bank punya ruang lebih besar untuk menurunkan bunga kredit tanpa harus mengorbankan kesehatan usahanya," katanya.
Ia mengatakan tantangan utama saat ini adalah belum optimalnya transmisi penurunan suku bunga kebijakan ke bunga perbankan. Hingga Januari 2026, bunga deposito satu bulan baru turun dari 4,81% menjadi 4,13%, sementara bunga kredit hanya turun dari 9,20% menjadi 8,80%.
Salah satu penyebabnya adalah porsi dana mahal dari deposan besar yang masih cukup signifikan, yakni sekitar 26% dari total DPK. Karena itu, bank dengan CASA yang kuat bukan hanya lebih hemat biaya, tetapi juga lebih cepat menawarkan kredit dengan bunga yang lebih menarik dan lebih stabil.
Untuk memperkuat CASA, Josua mengatakan , strategi yang dibutuhkan tidak lagi sekadar promosi atau insentif jangka pendek. Bank harus bisa membuat rekening benar-benar dipakai untuk aktivitas harian.
Caranya dengan memperdalam rekening penggajian, pengelolaan kas perusahaan, penagihan, pembayaran pemasok, transaksi pedagang, dan ekosistem usaha kecil agar arus masuk-keluar uang tetap berputar di bank yang sama. Di saat yang sama, layanan digital harus dibuat cepat, mudah, andal, dan menyatu dengan kebutuhan nasabah, karena rekening transaksi akan bertahan kalau pengalaman pemakaiannya baik. "Jadi, penguatan CASA paling berhasil kalau bank menjadi pusat transaksi nasabah, bukan hanya tempat menyimpan dana," katanya.
Digitalisasi mesin pertumbuhan CASA
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M Rizal Taufikurahman mengatakan, strategi paling efektif untuk memperkuat CASA saat ini adalah memperluas ekosistem transaksi. Bank perlu mendorong nasabah menjadikan rekening mereka sebagai rekening utama untuk aktivitas pembayaran, payroll, hingga transaksi digital
Digital banking, integrasi dengan platform e-commerce, layanan pembayaran QR, serta penguatan ekosistem UMKM menjadi faktor penting dalam meningkatkan frekuensi transaksi dan saldo rata-rata rekening.

"Selain itu, peningkatan kualitas layanan digital dan pengalaman pengguna juga krusial karena persaingan tidak hanya terjadi antarbank, tetapi juga dengan perusahaan fintech dan dompet digital," katanya.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda, menilai mendapatkan keuntungan dari CASA ini merupakan salah satu cara perbankan untuk mendapatkan keuntungan baik dari sisi margin bunga yang tinggi ataupun biaya transaksi. Salah satu pengelolaan CASA ini yang lazim untuk dilakukan perbankan menurutnya adalah dengan digitalisasi.
“Maka dari itu, salah satu faktor kenapa bank digital untuk adalah perubahan dari struktur pendapatan perbankan yang banyak dari dana murah. Bukan hanya di bank digital, tapi perbankan konvensional pun mulai masuk untuk mendapatkan dana murah,” kata Huda.
Kondisi itu pun menciptakan persaingan yang semakin ketat antara bank digital dan konvensional dalam mendapatkan CASA atau dana murah. Huda menjelaskan bahwa saat ini kemunculan bank digital semakin menggeser permintaan CASA bank besar, sementara pendapatan dari CASA dan ditopang oleh transaksi online bank digital juga semakin besar.
“Sedangkan untuk mencari profit dari kredit semakin menipis karena permintaan kredit yang berkurang dan kinerja bank digital dalam menyalurkan dana pun tidak sebaik bank konvensional,” jelasnya.
Kehadiran bank digital mampu menarik nasabah melalui digital saving yang saat ini pertumbuhannya cukup pesat. Bank digital mampu memanfaatkan ekosistemnya untuk menarik hal tersebut. Mencermati hal tersebut, bank konvensional besar pun ikut terjun dalam bisnis bank digital.
“Karena takut kehilangan momentum, bank konvensional besar juga terjun dalam bisnis bank digital dengan cara mencaplok bank kecil untuk dijadikan bank digital. Dengan strategi tersebut, bank konvensional berharap mampu masuk dalam ekosistem digital yang dikembangkan,” lanjut Huda.
Bank konvensional dengan bank digital yang dibangun olehnya itu pun memiliki kelebihan dari sisi ekosistem perbankannya, sehingga memberikan nilai tambah lebih.
Transformasi digital menjadi kunci utama dalam mempercepat akumulasi dana murah. Platform mobile banking, pembukaan rekening digital, hingga integrasi dengan ekosistem pembayaran memungkinkan bank menjangkau nasabah lebih luas dengan biaya operasional yang jauh lebih efisien.
Aplikasi mobile banking kini tidak hanya menjadi sarana transaksi, tetapi juga pintu masuk bagi bank untuk mengintegrasikan berbagai layanan finansial dalam satu ekosistem. Melalui fitur pembayaran, transfer instan, dompet digital, hingga pengelolaan keuangan pribadi, bank mampu meningkatkan frekuensi interaksi nasabah dengan rekening mereka.
Semakin sering rekening digunakan untuk transaksi sehari-hari, semakin besar peluang dana mengendap di dalam sistem perbankan. Inilah mekanisme yang secara bertahap memperkuat rasio CASA.
Strategi ini terlihat jelas dalam pendekatan bank yang mengembangkan ekosistem digital berbasis gaya hidup (lifestyle banking), seperti pembayaran transportasi, belanja daring, langganan hiburan, hingga layanan investasi.
Tantangan membangun CASA berkelanjutan
Meski potensinya besar, penguatan CASA bukan tanpa tantangan. Salah satu kendala utama adalah meningkatnya kompetisi dengan perusahaan teknologi finansial (fintech) dan dompet digital.

Banyak platform teknologi kini menawarkan layanan pembayaran dan penyimpanan dana yang praktis, sehingga sebagian transaksi masyarakat berpindah dari rekening bank ke aplikasi nonbank.
Selain itu, literasi keuangan digital masyarakat juga masih beragam. Di beberapa wilayah, preferensi terhadap transaksi tunai masih cukup tinggi sehingga menghambat percepatan digitalisasi perbankan.
Tantangan lainnya datang dari biaya investasi teknologi. Transformasi digital memerlukan belanja teknologi yang besar, mulai dari pengembangan aplikasi, sistem keamanan siber, hingga infrastruktur data.
Namun di balik berbagai tantangan tersebut, potensi penguatan CASA di Indonesia masih sangat besar. Hal ini didukung oleh beberapa faktor struktural. Pertama, tingkat inklusi keuangan yang terus meningkat. Program digitalisasi layanan keuangan membuka peluang besar bagi bank untuk menjangkau masyarakat yang sebelumnya belum terlayani sistem perbankan.
Kemudian, pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang pesat. Aktivitas transaksi daring yang semakin tinggi memberikan ruang bagi bank untuk menjadi tulang punggung sistem pembayaran.
Lalu, besarnya populasi usia produktif yang akrab dengan teknologi digital. Generasi ini cenderung lebih terbuka terhadap layanan keuangan berbasis aplikasi.
Jika dimanfaatkan secara optimal, faktor-faktor tersebut dapat menjadikan CASA bukan hanya sebagai indikator likuiditas, tetapi juga sebagai instrumen strategis untuk meningkatkan pendapatan perbankan.
Transformasi digital telah mengubah cara bank memandang CASA. Jika sebelumnya penguatan dana murah dilakukan melalui program pemasaran atau promosi sesaat, kini CASA mulai diposisikan sebagai hasil dari strategi ekosistem yang terintegrasi.
Bank yang berhasil membangun keterikatan digital dengan nasabah akan memiliki aliran dana murah yang lebih stabil dan berkelanjutan. Dalam jangka panjang, hal ini tidak hanya meningkatkan efisiensi biaya dana, tetapi juga memperkuat daya tahan bisnis perbankan di tengah perubahan lanskap industri keuangan.
Dengan kata lain, digitalisasi bukan sekadar alat modernisasi layanan, melainkan fondasi baru bagi perbankan dalam membangun struktur pendapatan yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Gema Dzikri dan Feby Febriana Nadeak