Vietnam Ungguli Indonesia Sebagai Tujuan Ekspansi Bisnis Uni Eropa di ASEAN
Hasil survei EU-ASEAN Business Council (EU-ABC) mengungkap dominasi Vietnam dan Indonesia sebagai tujuan ekspansi bisnis Uni Eropa ke ASEAN. Vietnam menduduki posisi pertama, disusul Indonesia.
•
2 Menit Baca
Oleh:
Tautan telah disalin! Tempelkan ke stiker tautan di Bio atau Story Anda.
Kawasan Asia Tenggara semakin menjadi magnet bagi arus modal global, khususnya dari para pelaku bisnis Uni Eropa. Temuan terbaru EU-ASEAN Business Sentimen Survey 2026 menunjukkan bahwa 73% pelaku usaha Eropa menyatakan ASEAN telah menjadi semakin penting bagi pendapatan global mereka selama dua tahun terakhir.
Kepercayaan ini diperkuat dengan hasil 61% responden melihat kawasan ASEAN memiliki potensi ekonomi terbaik untuk lima tahun ke depan. Di tengah optimisme dan potensi tersebut, Vietnam dan Indonesia tampil sebagai dua negara tujuan utama yang memimpin daya tarik investasi. Kedua negara tersebut dinilai menjanjikan dan memiliki peluang ekspansi pasar yang signifikan bagi perusahaan-perusahaan asal Eropa.
Dalam peta ekspansi bisnis lima tahun ke depan, Vietnam menempati posisi puncak di mana sebanyak 64% responden pelaku bisnis Uni Eropa merencanakan perluasan operasi mereka di negara tersebut. Tepat di bawahnya, Indonesia menyusul dengan hasil 57% responden juga bersiap melakukan ekspansi bisnis.
Kedua negara disorot secara khusus sebagai pasar pertumbuhan ganda (dual-growth market) yang paling jelas di ASEAN. Selain memiliki basis perusahaan Eropa yang sudah masif, yaitu lebih dari 70%, keduanya juga menjadi daya tarik utama bagi para pendatang baru.
Tingginya minat investasi di ASEAN tidak terlepas dari optimisme jangka panjang, di mana 78% responden berniat menambah volume perdagangan dan investasi mereka di kawasan tersebut dalam lima tahun mendatang. Dalam survei tersebut juga terekam alasan ekspansi pelaku bisnis, yaitu sebanyak 66% responden ekspansi ini didorong oleh harapan akan pemulihan ekonomi dan peluang pertumbuhan yang stabil.
Selain itu, faktor lainnya yang turut menjadi alasan, para investor Eropa juga menitikberatkan pada hadirnya hukum dan regulasi yang memadai untuk investasi asing (47% responden), peluang diversifikasi basis pelanggan (46% responden), serta biaya produksi dan tenaga kerja yang efisien (44% responden) dalam menentukan target pasar mereka.
Besarnya minat ekspansi ke Indonesia berbanding lurus dengan tren investasi Uni Eropa dalam lima tahun terakhir. Peran Uni Eropa tercatat pada capaian realisasi investasi di Indonesia yang sukses menembus 11.770,7 juta Dolar AS sepanjang periode 2022-2026.
Belanda unggul sebagai penanam modal terbesar dengan nilai 6.077,68 juta Dolar AS, disusul oleh Perancis, Jerman, Luxembourg, dan Belgia yang secara kolektif membangun ekosistem bisnis Eropa yang matang di nusantara.
Meski antusiasme ekspansi terekam tinggi dalam survei, realisasi investasi nyatanya menunjukkan dinamika fluktuatif. Setelah mencapai puncaknya pada tahun 2024 dengan nilai 3.554,8 juta Dolar AS, laju investasi ke Indonesia mengalami kontraksi pada 2025, yaitu turun menjadi 2.370,8 juta Dolar AS. Di tahun 2026, capaian investasi hingga paruh pertama mencatatkan 1.419,2 juta Dolar AS atau mencapai 59% dari nilai capaian tahun lalu.
Penurunan realisasi dari tahun 2024 tersebut diduga berkorelasi dengan sentimen pelaku usaha terhadap dinamika perundingan Indonesia-EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) sejak tahun 2025 lalu. Walaupun negosiasi telah rampung pada paruh kedua 2025.
Sentimen pasar terkait perjanjian tersebut turut terekam dalam survei setelah ratifikasi penuhnya di tahun 2027 (41% netral, 29% yakin, dan 29% tidak yakin), yang memicu sikap kehati-hatian atau wait-and-see dari kalangan investor sebelum menyuntikkan modal.
Untuk lima tahun ke depan, potensi Indonesia sebagai destinasi utama ekspansi Uni Eropa tetap terbuka, didukung oleh profilnya sebagai pasar yang dipandang stabil sekaligus amat menjanjikan bagi kelangsungan bisnis anggota Uni Eropa. Namun, untuk menerjemahkan minat 57% perusahaan tersebut menjadi investasi riil dan membalikkan tren realisasi, Indonesia perlu berbenah.
Strategi yang perlu disiapkan mencakup kepastian lingkungan regulasi yang mampu memprediksi arah kebijakan, percepatan implementasi komitmen IEU-CEPA, serta menjaga daya saing biaya produksi demi menciptakan iklim usaha yang memikat bagi investor luar.